Unjuk Rasa Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat

Sabtu | 04 Maret 2017 | 20:46:52 WIB

Unjuk Rasa Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat
GLOBALINDONESIANEWS.COM/ISTIMEWA

GLOBALINDONESIANEWS.COM -

 

JAKARTA - Taman Pandang Istana Depan Istana Negara Jakpus Telah Berlangsung Unjukrasa Dari Perempuan dari Perkumpulan Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat Terkait Menyambut hari Perempuan International tema Women's March jakarta Perempuan Indonesia untuk peradaban yang sejahtera Yang Diikuti Jumlah massa + 350 Orang kordinator acara Naila Rizki, Yuli Ririn. Sabtu (4/3/2017)

Mereka Hanya Mengajukan Tuntutan diantaranya

1.Menghentikan tindakan-tindakan  Diskriminasi dan kekerasan dalam bentuk apapun yang berdasarkan orientasi seksual indentitas gender, dan ekspresi gender, baik yang dilakukan oleh aparat negara (termasuk Kepolisian dan Satpol PP) maupun oleh masyarakat umum (termasuk Ormas yang berbasis Agama ) serta mengusut tuntas kasus kasus pelanggaran hukum dan HAM orang orang LGBTI yang sudah lama terbengkalai dan tidak jelas Penyelesainnya

2.Memprioritaskan proses pengkajian ulang semua kebijakan negara  termasuk peraturan Daerah ,  yg secara lasngsung maupun tidak langsung mengkriminalisasi dan mendiskriminasi orang orang  LGBTI serta normalisasi hukum nasional, kebijakan praktik-praktik  dengan prinsip prinsip Yogyakarta.

3.Mengutamakan SOGIE dan HAM keseluruh lembaga negara tingkat nasional dan daerah
4.Mendorong pemberitaan LGBTI yg tidak  bias , Kontruktif dan membangun Persprektif publik yg Inklusif terhadap SOGIE dan HAM.

Spanduk Dan Poster Yang Digelar Diantarenya berbunyi atara Lain Sebagai Berikit

1. Stop Total Power to Profil
2. Perempuan selamatkan bumi.
3. Marie Girls Are Not Brides!.
4. Lawakanmu Jayus Soal Perempuan.
5. Setiap dua  Hari 1 perempuan dibunuh
6. Women March Jakarta 4 Maret 2017.
7. Selamatkan Perempuan dan anak-anak dari bencana Iklim.

Dalan Siaran Persnya Dalam Rangka Hari perempuan lntemational dan Women March Jakarta

Arus Pelangi Pendefinisian perempuan sebenarnya tidak ditentukan dari ia bervagina atau tidak, tetapi juga karena pemaknaan atas perasaan dan pengidentifikasian diri sebagai perempuan. Definisi perempuan sangatlah cair dan multidimensional, melampaui batasan tradisional dan konstruksi heteronormatif.

Rezim patriarki dan heteronormatif membuat kita hanya melihat perempuan menjadi sangat sempit, biner, dan tradisional sehingga perempuan di luar itu terpaksa hidup dengan kebencian, penghakiman, dan diskriminasi. Fakta penelitian tahun 2013 yang dilakukan oleh Arus Pelangi terhadap komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, dan

Transgender perempuan (LGBT) menunjukkan bahwa 89,396 LGBT di indonesia pernah mengalami kekerasan karena orientasi seksual, identitas gender, dan ekspresi gendemya

dimana 79,196 responden menyatakan pernah mengalami bentuk kekerasan psikis, 46,396 responden menyatakan pernah mengalami kekerasan pisik, 26,396 kekerasan ekonomi, 45,196 kekerasan seksual dan 63,396 kekerasan budaya.

Bahkan kekerasan kerap dialami saat usia sekolah dalam bentuk bullying. 17,396 LGBT pemah berfikir untuk bunuh diri, dan 16,496 pernah melakukan percobaan bunuh diri lebih dari sekali.

Dalam penelitian ini juga tercatat bahwa, perempuan lesbian dan transgender male to female (Transpuan) mendapat lebih banyak kekerasan fisik dan psikis.

Kebencian dan diskriminasi ini juga melahirkan kekerasan structural yang dialami kelompok LGB'HQ khususnya Transgender perempuan (Transpuan) seperti yang tercatatat dalam survey di Sanggar SWARA tahun 2014 survey terhadap 224 komunitas Transpuan muda dampingan berusia dibawah 30 tahun di wilayah DKI Jakarta

dimana 2096 dampingan berada di Jakarta Utara, 2196 berada di Jakarta Selatan, 1296 di Jakarta Pusat, 2196 berada di Jakarta Barat dan 2696 berada di wilayah Jakarta Timur dan berasal dari 17 Provinsi di indonesia yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta, Bengkulu, Jawa Tengah, Banten, Yogyakarta, Jawa Timur, Aceh, Suma.(winda/irfan)

Tags
KOMENTAR

GLOBALINDONESIA.com © 2015 About Us Contact Us